Novel Musa si Musafir Ilmu
MUSA
Terik mentari pagi kembali menyapa bumi pertiwi. Sudah berapa lama ia bersembunyi dibalik langit abadi. Kini,bunyi deruman kendaraan di ibukota pun kembali mengiris sembilu di hati. Menyisakan debu yang bertebaran di pipi.
“Ah,jalanan pagi ini macet sekali. Padahal aku harus tiba lebih awal di sekolah.” Gerutuku sambil tetap memegang tiang yang berada di bus kota.
Cuaca yang panas membuatku merasa gerah dan ingin bersikap egois dengan duduk di kursi penumpang tanpa melihat siapa saja yang berhak untuk duduk. Ketahuilah,mode transportasi di Ibukota ini sudah bagaikan transportasi haram saja. Banyak sekali larangan dan himbauan yang dipajang dimana-mana. Dilarang bawa makanan,dilarang merokok,dilarang mengamen,bahkan jangan-jangan dilarang bawa durian,hehe.
“Permisi.” Sapaku kepada seorang pria yang menggunakan seragam sekolah putih abu-abu itu.
Pria tersebut mematung, pandangannya terlempar jauh ke luar jendela yang berada di sampingnya.
“Permisi,mas,bang,dek. Saya numpang duduk di sebelah ya.” Sapaku mengulangi dengan nada tegas.
Melihatnya yang hanya diam tak berkutik,aku pun menyosor tempat duduk di sampingnya.
“Ah,mungkin dia bisu.” Batinku.
Sesampainya di sekolah,aku berlari menuju ruang kelasku. Namun,pak Suganta telah memulai ulangan harian Matematikanya. Dengan jantung berdegup kencang,aku pun masuk ke dalam kelas.
“Permisi,pak. Maaf saya telat,jalanan di ibukota macet parah.”
“Tidak apa-apa saya mengerti. Tetapi sebagai konsekuensinya kamu harus mengerjakan ulangan di bangku paling depan.” Kata pak Suganta dengan tenang.
“Loh? Kok begitu pak?”
“Ya kamu lihat saja,memangnya ada bangku yang masih kosong selain bangku disitu.” Tunjuk pak Suganta ke arah bangku yang berada di depannya.”
“Aduh gawat. Kalau begini aku tidak bisa mencontek.” Pikirku saat itu.
Selang beberapa menit aku duduk,tiba-tiba pintu kelas kembali terbuka. “Ternyata wakil Kepala Sekolah,” batinku.
Namun,seseorang yang berada di belakangnya berhasil membuatku terperanjat dari kursi.
“Eh,dia kan.... pria yang tadi bersamaku di bus?”
Wakil Kepala Sekolah itu pun berbisik kepada pak Suganta,pak Suganta menjawab dengan anggukan kecil tanda bahwa ia mengerti apa yang dikatakan oleh pak Wakil Kepala Sekolah.
Pria itu masuk ke dalam kelas sembari terus menunduk. Beberapa menit kemudian Pak Suganta membuka suara.
“Silahkan nak,perkenalkan namamu.” Kata pak Suganta.
Pria itu hanya diam seribu bahasa sambil mengulum jari jemarinya diatas perut hingga membuat tingkahnya begitu lugu.
“Silahkan nak,perkenalkan namamu.” Pak Suganta mengulangi perintahnya.
Tak lama kelas menjadi riuh,anak-anak di kelas menertawakan tingkahnya yang begitu lugu. Bahkan ada beberapa yang mengucapkan kalimat skeptis padanya.
“Hei,kamu bisu ya.” Sahut anak lelaki yang duduk di belakang.
“Dia nggak punya nama ya?” tanya anak perempuan yang rambutnya dikuncir kuda.
“Sudah,sudah. Biar bapak yang perkenalkan dirinya.” Tegas pak Suganta.
Namanya Musa, dia anak pindahan dari Solo.” Kata pak Suganta lugas.
“Oh,namanya Musa ... Pria berpostur sedang dengan kulit putih,dan tak lupa lesung pipit yang menembus di kedua belah pipinya.” Batinku saat ia menengadahkan wajahnya ke hadapan kami semua di kelas.
“Silahkan duduk disana!” Tunjuk pak Suganta ke arahku.
Ia pun berjalan menuju ke arahku,hal tersebut sempat membuatku panik. Namun dengan sigap aku mengubah perasaan berusaha untuk tenang ,sembari mempersilahkan ia duduk dengan manis.
“Bella Rina.” Ujarku sambil menyodorkan tangan. Namun ia tak menggubris tindakanku.
“Huh,sombong sekali.” Pikirku.
Ulangan Harian kali ini pun aku kerjakan dengan kerja keras dan kejujuran. Tanpa minta bantuan maupun contekan jawaban. Sedangkan pria itu,hanya sibuk komat-kamit membaca buku kecil ditangannya.
***
Kring...kring..kring... Bel istirahat pun berbunyi,menandai berakhirnya sesi ulangan harian Matematika pagi ini. Setelah pak Suganta menutup pertemuan,anak-anak di kelas segera berlari keluar untuk mengisi perut yang telah keroncongan atau pun sekedar menghirup udara segar karena sesak dengan soal ulangan Matematika yang diberikan.
“Mau ke kantin?” tawarku kepada pria yang sedang duduk disampingku itu.
Dia hanya menghela napas sambil menatap lurus ke depan,seperti sedang menerka-nerka apa yang ada di seberang sana. Melihat ekspresinya yang membeku,aku pun menjauh darinya.
“Lebih baik aku ke kantin saja,toh dia juga tidak bicara apa-apa. Awas saja nanti kalau pingsan di kelas,aku gelindingin ke lantai supaya tahu rasa.” Gerutuku sepanjang jalan menuju kantin.
Semilir angin siang menjamah dedaunan kering seperti halnya dia menjamah wajahku,meriap-riapkan ujung-ujung rambutku. Tapak kakiku berhenti melangkah. Kuserongkan badan dan kutatap dengan lurus. Berdiri aku termangu melihat pria pendiam itu sedang berada bersama Kiai Subadar.
“Musa? Bersama Kiai Subadar? Kiai yang terkenal dari Pondok Pesantren Tegal Jadin itu? Ada apa dengan mereka?” tanyaku di dalam benak hati.
Aku pun berjalan mendekati mereka,memberikan salam dan menyalami telapak tangan Kiai Subadar.
“Assalamualaikum,kiai.” Ucapku memberi salam. Tampak ekspresi terkejut diwajah Musa.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” Jawab pak Kiai.
“Apa kabar kiai?”
“Oh,Alhamdulillah baik. Kamu? Sepertinya saya tidak asing dengan wajahmu,eee.” Ucap pak kiai sambil menerka-nerka namaku.
“Rina,kiai. Anaknya pak Kuncoro dan ibu Minarsih,tetangga pak Kiai dulu.” Jawabku.
“Rina? Rina yang waktu kecil suka menari berputar-putar itu ya?” Ledek kiai Subadar.
“Ah,kiai bisa saja. Itu kan masa lalu. Ngomong-ngomong,ada apa gerangan datang kemari kiai?”
“Memastikan santriku ini betah disini. Katanya ingin mengecap pendidikan diluar pesantren.” Sambil menyentuh pundak Musa.
“Musa? Santri dari Pondok Pesantren Tegal Jadin?” tanyaku memastikan.
“Iya,kamu tolong ajari dia ya. Dia belum terbiasa dengan kehidupan di kota Metropolitan.” Ucap Kiai Subadar dengan lirih namun mengandung makna yang kuat.
***
Bel masuk pun berbunyi,kami berdua pun berpamitan dengan kiai Subadar. Di usianya yang senja,keriput mulai menjamahnya. Namun saat mata berpapasan langsung dengannya,hanya ada kedamaian dan ketentraman yang muncul dari wajahnya.
“Kamu santri toh? Pantas saja diam membisu,malu ya?” tanyaku sembari meledeknya.
“Maaf karena telah mengabaikanmu.” Ucapnya hingga membuat langkah kami terhenti di bawah pohon kamboja besar di taman bunga . Kegelisahan kembali menyergap jiwa kewanitaanku.
Aku terdiam sejenak sembari mengatur napas dan jantungku yang berdegup tak karuan.
“Kupikir kamu bisu saat pertama kali bertemu di bus.” Kataku setelah sekian lama terdiam.
“Aku hanya malu,karena belum terbiasa berbicara di depan banyak orang. Apalagi dengan seorang wanita.” Jawabnya polos.
“Dan.... aku ini seorang wanita. Kamu tidak malu bicara padaku?” tanyaku dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaannya.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kamu orang tersopan yang pernah aku temui di Jakarta.” Ucapnya dengan tersenyum.
“Ya Rabb,salahkah jika hamba menginginkannya?” tanyaku dalam hati.
Kami pun meneruskan perjalanan,berharap sebuah keajaiban menanti di penghujung jalan. Langit siang mulai membentang. Sepasang merpati melintas cepat di atas langit. Pikiranku semakin melayang-layang. Sebuah pertanyaan yang sejak tadi menggelisahkanku kembali menyerang : “salahkah jika hamba menginginkannya?”
_ Tunggu kelanjutan ceritanya ya_
Stay Tune My Blog🤗


Ceritanya bagus, saya tunggu kelanjutannya ya mbak :)
BalasHapusMana kelanjutannya
BalasHapuskapan lanjutanya
BalasHapus