Riset Desa Kuala Mandor B - Rumah Tengah Hutan

RUMAH TENGAH HUTAN - 1

Oleh : Era Anggini



Perjalanan yang kami tempuh menuju Desa Kuala Mandor B dari Pontianak dengan menggunakan klotok atau ‘motor air’ bahasa orang sana menyebutnya, memakan waktu kurang lebih 2-3 jam perjalanan sedangkan jika melalui jalur darat dapat menggunakan sepeda motor atau kendaraan roda empat. Perbedaan yang signifikan sangat kami rasakan, karena dengan melalui jalur darat hanya memakan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di Desa Kuala Mandor B, dengan infrastuktur jalan yang memadai.

Jalan penghubung antara Desa Kuala Mandor B dengan Kota Pontianak ini dibangun sekitar tahun 2000-an, jalan inilah yang menghubungkan Desa Kuala Mandor B dengan Siantan, dan desa Kubu Padi. Dengan adanya jalan ini sedikit banyaknya membuka Desa Kuala Mandor B yang terisolir selama ini. Sebuah desa yang hanya bisa dijangkau dengan menggunakan transportasi air yang menyita waktu cukup lama.

Kemudian pada tahun 2019 jalan-jalan di perkampungan desa diperbaiki dari yang awalnya  hanya jalan tanah dibangun menjadi jalan semen yang lebarnya  kurang lebih  mencapai 2 meter. Pembangunan ini sangat membantu penduduk Desa Kuala Mandor B dalam beraktivitas seperti bekerja, sekolah, dan berbagai aktivitas lainnya.

Desa Kuala Mandor B adalah salah satu desa dari desa-desa yang ada di Kecamatan Kuala Mandor, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Luas seluruh wilayah Desa Kuala Mandor B adalah 13.750 km2.  Desa Kuala Mandor B terbagi menjadi empat dusun yakni Dusun Pelita Jaya, Dusun Maju Jaya, Dusun Jaya Sakti, dan Dusun Selamat Jaya.

Batas wilayah Kecamatan Kuala Mandor itu sendiri berbatasan langsung dengan Kecamatan Sungai Ngabang sebelah Timur, Kecamatan Siantan di sebelah Barat, berbatasan dengan Sungai Ambawang di sebelah Selatan dan berbatasan dengan Kabupaten Landak di sebelah Utara.

Tapal batas di hutan desa Kuala Mandor memang tak pernah habis mengundang banyak cerita. Salah satunya, saat aku pertama kali menginjakkan kaki di desa yang masih asri ini. Mendongak ke arah atas sembari menyipitkan mata, cuaca yang panas dan uap tanah gambut sukses membuat kulitku merasa berkelit meronta-ronta.

Huhh, panaaassss!!” ungkapku mencerca keadaan saat itu. Kuangkat sedikit rokku yang bermotif bunga tulip merah dan kuning. Kulihat sepatu putihku yang kotor karena debu yang berhamburan di tanah gambut. Rasa kesal kembali menyergap batinku.

Tiba-tiba, pandanganku terlempar jauh pada seorang wanita tua yang sedang memetik padi di hamparan sawah nan luas. Kalau kata orang Melayu itu ‘ngetam padi’. Caping di kepalanya terlihat sudah hampir lapuk, kaos yang ia kenakan juga terlihat lusuh. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, ia melihat kami berjalan berbondong-bondong bagai kawanan kambing yang digembala pada siang hari.

Kedatangan kami disambut desiran angin lembut yang berkolaborasi dengan terik sinar mentari di tengah hari. Suara riak air yang berderu di gendang telinga, mampu menghilangkan sejenak kerinduan di dalam dada. Perjalanan melelahkan itu berakhir, akhirnya aku dapat merasakan empuknya kasur meski tak seempuk kasur di rumah.

Tertidur. Tidak! Aku hanya mengulang ingatan yang kutangkap dengan indera penglihatan. Sembari memutar mundur layaknya sebuah film. Terlintas di pikiranku, beberapa deret rumah yang tersusun rapi di pinggir kanan dan kiri jalan serta sungai. Meskipun masih terdapat rumah yang berjarak-jarak dikarenakan adanya hutan yang membatasi pemukiman warga. Renggang. Namun, bukan berarti hubungan kekerabatan antar warga juga renggang.  Begitulah seterusnya, hingga aku sampai di simpang empat desa yang masih minim pemukiman warga.

Di Desa Kuala Mandor B tepatnya Dusun Pelita Jaya terdiri dari  deret-deret rumah yang tersusun berjarak-jarak mengikuti pola hutan dan sungai. Bangunan-bangunan yang ada di Dusun Pelita Jaya adalah 1 buah masjid, 2 buah surau, 1 kantor polisi sektor, dan 1 kantor desa, yang biasanya digunakan menjadi tempat pertemuan ataupun kegiatan bermasyarakat.

Kemudian di Desa Kuala Mandor B, terdapat 2 bangunan sekolah menengah pertama yakni SMP Negeri 01 Kuala Mandor B dan Madrasah Tsanawiyah Al-Ikhlas, yang terletak di dusun Pelita Jaya. 1 bangunan sekolah dasar yakni SD Negeri 02 Kuala Mandor B dan 1 bangunan PAUD Mekar Jaya.  Selain itu ada juga fasilitas kesehatan yaitu, satu bangunan POSKESDES (Pos Kesehatan Desa) yang dibangun tepat disamping rumah pak Kepala Desa.

Senja mulai muncul dengan malu-malu, tersapu di antara debu-debu, kawanan itik bersiap naik ke peraduan. Bersemayam. Dibalik anyaman ampas padi yang terasa nyaman. Kulihat bibik (sebutan untuk istri bapak Jumares, selaku tuan rumah) sedang sibuk meramu beberapa daun di pintu belakang. Mengupas. Memilin. Dedaunan hutan yang layak untuk dijadikan obat. Tangannya yang kasar karena tidak memakai penghalus kulit seperti kebanyakan ibu di perkotaan, membuat aku terenyuh untuk sekedar mendekatinya.

Nuansa hutan sangat lekat. Sungguh, masih lekat selekat urat nadi. Sudah lama tak merasakan tarikan nafas yang tenteram dan asri. Sejuk. Segar. Begitulah kehidupan di pedesaan yang kutinggali untuk seminggu ini. Perumahan di tengah hutan, layaknya menakutkan. Tapi ternyata tidak, ada kedamaian yang bersembunyi di balik suara jangkrik dan riak air yang mengalir dari celah-celah tanah gambut berwarna coklat kehitam-hitaman.

Bersambung ~


Komentar

Postingan Populer