Kalbar Melawan Covid-19
Peran Posyandu dalam Memberantas Rantai Penyebaran Covid-19
Pandemi Covid-19 tidak selamanya menyimpan ketakutan, keresahan, maupun keputusasaan. Sama halnya dengan duet figur antara media sosial dengan kaum generasi milenial— beserta kegaduhan yang diciptakan oleh keduanya tidak harus dimaknai secara tunggal sebagai salah satu polusi dalam peradaban. Apabila ditanggapi secara positif, keduanya menyimpan potensi terwujudnya tata kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
Seringkali media sosial dilekati citra antagonis sebagai pemeran utama atas kegagalan paham pengetahuan massa. Kurangnya catatan kaki atau referensi yang jelas menjadi salah satu penyebab melekatnya stigma tersebut. Dalam posisi tersebut lah influencer memerankan perannya, yakni dengan memberikan catatan kaki yang kuat, sehingga pengetahuan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
Tulisan pendek ini bukan bermaksud membahas bagaimana sejarah media sosial terbentuk, melainkan diarahkan kepada alternatif ruang komunikasi publik sebagai upaya memberantas rantai penyebaran covid 19. Hal ini terinspirasi oleh influencer yang secara konsisten membentuk wacana Covid-19 sebagai musuh bersama (common enemy). Beberapa minggu yang lalu, saya menonton wawancara yang dilakukan oleh Dokter Tirta (dr. Tirta Mandira Hudhi), influencer yang berlatar belakang pendidikan kedokteran, dan gaya meluap-luapnya yang mampu menarik perhatian di media sosial.
Apa yang menarik adalah luapan energi tersebut bukan saja muncul sebagai hate speech, melainkan dalam beberapa aspek dapat dikaji dalam bidang-bidang khusus. Dalam kesempatan sharing session di salah satu channel Youtube milik influencer kondang yang baru saja memeluk agama Islam, Deddy Corbuzier. Dokter Tirta menjelaskan bahwa konsep sosiologi kesehatan di Indonesia sesungguhnya telah memiliki bentuknya sejak lama. Konsep tersebut juga telah diterapkan dan dijalankan sebagai program reguler pemerintah tetapi hampir dilupakan fungsinya oleh sebagian besar masyarakat bahkan oleh pemerintah itu sendiri.
Program yang sering kita disebut dengan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) seharusnya tidak hanya berperan sebagai ruang timbang bayi, lebih luas lagi dapat diberdayagunakan sebagai edukasi isu-isu kesehatan bagi masyarakat, serta dapat dimaksimalisasi sebagai wahana preventif penanggulangan masalah kesehatan termasuk di dalamnya bencana pandemi Covid-19. Dalam hal ini benar saja, saya ambil contoh di daerah tempat saya tinggal, yaitu Kota Pontianak.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak tahun 2017, Sidiq Handanu mengatakan bahwa Pontianak sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Barat hingga saat ini masih kekurangan posyandu dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Jumlah posyandu di Pontianak saat ini masih kurang, hanya ada 273 Posyandu balita dan 50 Posyandu lansia.
Ia menjelaskan, setiap satu posyandu memiliki rasio 100 balita. Pemerintah pun lebih gencar melakukan kegiatan timbang bayi dan pengelolaan gizi bagi balita ketimbang memberi edukasi dini kepada masyarakat mengenai pentingnya hidup bersih, sanitasi, cara cuci tangan yang baik dan benar, penggunaan masker yang benar, bagaimana bersikap saat bersin maupun batuk, dan sebagainya.
Menjadikan posyandu sebagai peran pemberantasan rantai penyebaran covid-19 tidaklah terlalu sulit, caranya dengan melibatkan aksi pemetaan (scanning), analisis (analizing), dan koleksi data (collecting). Jika satu kecamatan, punya satu puskesmas. Maka setiap puskesmas, hitung saja punya tiga posyandu. Setiap puskesmas memiliki satu Rumah Sakit Umum Daerah untuk rujukan. Nantinya, setiap posyandu mendata dan melapor ke puskesmas, puskesmas melapor ke Rumah Sakit Daerah, dan Rumah Sakit Daerah melapor ke Rumah Sakit Pusat. Dari sanalah, laporan akan diajukan ke Dinas Kesehatan setempat, lalu ke pemerintah provinsi, dan berakhir ke pemerintah pusat di Jakarta.
Jika dari awal, hal tersebut kita lakukan tentunya penanganan bencana, seperti pandemi covid 19 ini dapat teratasi sejak dini. Bukannya bersikap waspada, malah bersikap jumawa. Figur influencer yang memberi pengetahuan di ruang komunikasi publik seperti inilah yang perlu kita cermati dan ikuti langkah-langkahnya. Selain menjadi figur motivasi, setidaknya dapat menjadi ladang pahala bagi diri kita sendiri. Memulainya dari diri sendiri, keluarga, dan masyarakat setempat dengan memberikan edukasi dini mengenai pentingnya hidup bersih.
#stayathome #dirumahaja
Pandemi Covid-19 tidak selamanya menyimpan ketakutan, keresahan, maupun keputusasaan. Sama halnya dengan duet figur antara media sosial dengan kaum generasi milenial— beserta kegaduhan yang diciptakan oleh keduanya tidak harus dimaknai secara tunggal sebagai salah satu polusi dalam peradaban. Apabila ditanggapi secara positif, keduanya menyimpan potensi terwujudnya tata kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
Seringkali media sosial dilekati citra antagonis sebagai pemeran utama atas kegagalan paham pengetahuan massa. Kurangnya catatan kaki atau referensi yang jelas menjadi salah satu penyebab melekatnya stigma tersebut. Dalam posisi tersebut lah influencer memerankan perannya, yakni dengan memberikan catatan kaki yang kuat, sehingga pengetahuan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
Tulisan pendek ini bukan bermaksud membahas bagaimana sejarah media sosial terbentuk, melainkan diarahkan kepada alternatif ruang komunikasi publik sebagai upaya memberantas rantai penyebaran covid 19. Hal ini terinspirasi oleh influencer yang secara konsisten membentuk wacana Covid-19 sebagai musuh bersama (common enemy). Beberapa minggu yang lalu, saya menonton wawancara yang dilakukan oleh Dokter Tirta (dr. Tirta Mandira Hudhi), influencer yang berlatar belakang pendidikan kedokteran, dan gaya meluap-luapnya yang mampu menarik perhatian di media sosial.
Apa yang menarik adalah luapan energi tersebut bukan saja muncul sebagai hate speech, melainkan dalam beberapa aspek dapat dikaji dalam bidang-bidang khusus. Dalam kesempatan sharing session di salah satu channel Youtube milik influencer kondang yang baru saja memeluk agama Islam, Deddy Corbuzier. Dokter Tirta menjelaskan bahwa konsep sosiologi kesehatan di Indonesia sesungguhnya telah memiliki bentuknya sejak lama. Konsep tersebut juga telah diterapkan dan dijalankan sebagai program reguler pemerintah tetapi hampir dilupakan fungsinya oleh sebagian besar masyarakat bahkan oleh pemerintah itu sendiri.
Program yang sering kita disebut dengan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) seharusnya tidak hanya berperan sebagai ruang timbang bayi, lebih luas lagi dapat diberdayagunakan sebagai edukasi isu-isu kesehatan bagi masyarakat, serta dapat dimaksimalisasi sebagai wahana preventif penanggulangan masalah kesehatan termasuk di dalamnya bencana pandemi Covid-19. Dalam hal ini benar saja, saya ambil contoh di daerah tempat saya tinggal, yaitu Kota Pontianak.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak tahun 2017, Sidiq Handanu mengatakan bahwa Pontianak sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Barat hingga saat ini masih kekurangan posyandu dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Jumlah posyandu di Pontianak saat ini masih kurang, hanya ada 273 Posyandu balita dan 50 Posyandu lansia.
Ia menjelaskan, setiap satu posyandu memiliki rasio 100 balita. Pemerintah pun lebih gencar melakukan kegiatan timbang bayi dan pengelolaan gizi bagi balita ketimbang memberi edukasi dini kepada masyarakat mengenai pentingnya hidup bersih, sanitasi, cara cuci tangan yang baik dan benar, penggunaan masker yang benar, bagaimana bersikap saat bersin maupun batuk, dan sebagainya.
Menjadikan posyandu sebagai peran pemberantasan rantai penyebaran covid-19 tidaklah terlalu sulit, caranya dengan melibatkan aksi pemetaan (scanning), analisis (analizing), dan koleksi data (collecting). Jika satu kecamatan, punya satu puskesmas. Maka setiap puskesmas, hitung saja punya tiga posyandu. Setiap puskesmas memiliki satu Rumah Sakit Umum Daerah untuk rujukan. Nantinya, setiap posyandu mendata dan melapor ke puskesmas, puskesmas melapor ke Rumah Sakit Daerah, dan Rumah Sakit Daerah melapor ke Rumah Sakit Pusat. Dari sanalah, laporan akan diajukan ke Dinas Kesehatan setempat, lalu ke pemerintah provinsi, dan berakhir ke pemerintah pusat di Jakarta.
Jika dari awal, hal tersebut kita lakukan tentunya penanganan bencana, seperti pandemi covid 19 ini dapat teratasi sejak dini. Bukannya bersikap waspada, malah bersikap jumawa. Figur influencer yang memberi pengetahuan di ruang komunikasi publik seperti inilah yang perlu kita cermati dan ikuti langkah-langkahnya. Selain menjadi figur motivasi, setidaknya dapat menjadi ladang pahala bagi diri kita sendiri. Memulainya dari diri sendiri, keluarga, dan masyarakat setempat dengan memberikan edukasi dini mengenai pentingnya hidup bersih.
#stayathome #dirumahaja





Komentar
Posting Komentar